← Kembali ke https://kalteng.co/

In Memoriam Dr. Biruté Galdikas: Sosok di Balik Kesuksesan Konservasi Oranguta di Taman Nasional Tanjung Puting

https://kalteng.co/ • 25 March 2026 08:55
In Memoriam Dr. Biruté Galdikas: Sosok di Balik Kesuksesan Konservasi Oranguta di Taman Nasional Tanjung Puting

KALTENG.CO-Dunia konservasi internasional berduka. Sosok yang dijuluki sebagai “Malaikat Leakey” dan “Bunda Orangutan”, Dr. Biruté Mary Galdikas, telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

Kepergiannya meninggalkan lubang besar di jantung hutan Kalimantan, tempat ia menghabiskan lebih dari 50 tahun hidupnya demi satu tujuan: memastikan orangutan tidak punah dari muka bumi.

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai perjalanan hidup, waktu berpulang, dan sejarah perjuangan beliau yang dirangkum dari berbagai sumber terpercaya.

Berita Duka: Waktu Berpulangnya Sang Legenda

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari portal berita internasional dan catatan biografi terbaru, Dr. Biruté Galdikas meninggal dunia pada:

Kepergian beliau terjadi di tengah masa pensiun aktifnya, di mana ia tetap menjabat sebagai Presiden Orangutan Foundation International (OFI) hingga akhir hayatnya.

Sejarah Perjuangan: Dari Los Angeles ke Rimba Kalteng

Perjalanan Dr. Biruté dimulai pada tahun 1971. Mengutip Britannica dan National Geographic, ia adalah satu dari tiga wanita (bersama Jane Goodall dan Dian Fossey) yang dipilih oleh antropolog legendaris Dr. Louis Leakey untuk mempelajari kera besar di habitat aslinya.

1. Pendirian Camp Leakey (1971)

Tiba di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Biruté tidak menemukan fasilitas apa pun. Ia mendirikan Camp Leakey, sebuah pos penelitian primitif di tengah rawa yang kini menjadi pusat penelitian orangutan paling terkenal di dunia. Di sini, ia mulai mengamati perilaku orangutan yang saat itu masih menjadi misteri bagi dunia sains.

2. Melawan Arus Konservasi

Pada era 70-an dan 80-an, banyak peneliti yang hanya fokus pada pengamatan. Namun, Biruté melangkah lebih jauh. Ia memulai program rehabilitasi orangutan, yaitu merawat bayi-bayi orangutan yang induknya dibunuh dan mengajari mereka cara bertahan hidup di hutan—sebuah praktik yang awalnya dikritik namun kini menjadi standar konservasi dunia.

3. Berdirinya OFI dan Cabang Indonesia

Untuk mendukung pendanaan dan advokasi, ia mendirikan Orangutan Foundation International (OFI) pada tahun 1986 di Amerika Serikat. Tak lama kemudian, ia mendirikan yayasan serupa di Indonesia (Pangkalan Bun, Kalteng) untuk mempermudah koordinasi dengan pemerintah lokal.

“Beliau bukan hanya peneliti, tapi garda terdepan melawan deforestasi sawit dan perburuan liar,” tulis portal Mongabay dalam ulasan dedikasi beliau.

Kontribusi Besar bagi Kalimantan Tengah

Selama lebih dari lima dekade, kontribusi Dr. Biruté bagi Kalimantan Tengah sangatlah nyata:

Penghargaan Internasional

Dedikasinya diakui oleh dunia melalui berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya:

  1. Tyler Prize for Environmental Achievement (1997) – Penghargaan tertinggi bidang lingkungan.

  2. Kalpataru (1997) – Diberikan oleh Pemerintah Indonesia atas jasanya melestarikan lingkungan.

  3. Officer of the Order of Canada (1995).

Warisan yang Abadi

Meskipun Dr. Biruté Galdikas telah tiada, api semangatnya terus menyala di Camp Leakey dan ribuan hektar hutan yang ia selamatkan. Beliau mengajarkan dunia bahwa menyelamatkan orangutan berarti menyelamatkan paru-paru bumi yang memberikan nafas bagi manusia.

“Orangutan adalah saudara sepupu kita. Jika kita membiarkan mereka punah, kita sedang menghancurkan sebagian dari jiwa kemanusiaan kita sendiri.” — Dr. Biruté Galdikas. (*/tur)

Sumber: https://kalteng.co/
Baca Artikel Asli