PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Permainan tradisional khas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, Sepak Sawut, kembali menjadi perhatian dalam rangkaian Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026. Keunikan permainan menggunakan bola api dari buah kelapa membuat olahraga rakyat ini selalu menarik minat masyarakat maupun pengunjung yang memadati arena festival.
Di tengah perkembangan modernisasi, Sepak Sawut tetap bertahan sebagai warisan budaya yang sarat nilai tradisi dan kebersamaan masyarakat Dayak. Bola yang digunakan bukan terbuat dari bahan biasa, melainkan buah kelapa tua yang dikupas hingga menyisakan serabut, kemudian direndam minyak tanah sebelum dibakar.
Koordinator Lomba Sepak Sawut FBIM 2026, Edo Nugraha mengatakan, permainan tersebut memiliki cara bermain yang hampir sama dengan sepak bola atau futsal, namun sensasi bermain dengan bola api menjadi ciri khas tersendiri. “Buah kelapa direndam semalaman menggunakan minyak tanah agar saat pertandingan dimulai bolanya tetap menyala dan api bertahan lebih lama,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menuturkan, penggunaan buah kelapa sebagai bola permainan bukan sekadar atraksi, tetapi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang terus dijaga hingga sekarang. “Dari dahulu permainan ini memang menggunakan buah kelapa sebagai media permainan dan itu menjadi identitas budaya masyarakat Dayak,” katanya.
Dalam satu pertandingan, masing-masing tim diperkuat tujuh pemain yang terdiri dari lima pemain inti dan dua cadangan. Pertandingan berlangsung dua babak dengan durasi masing-masing 10 menit dan waktu istirahat lima menit.
Menurut Edo, kehadiran Sepak Sawut di FBIM menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga eksistensi permainan rakyat tradisional agar tetap dikenal generasi muda sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas. “Sepak Sawut merupakan warisan budaya asli masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang harus terus dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkapnya. (bam)