KALTENG.CO-Hampir setiap budaya dan peradaban di dunia memiliki sistem kepercayaan atau agama asli mereka sendiri. Dari keyakinan tradisional tersebut, selalu ada sosok-sosok terpilih yang mengemban tugas besar: menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia spiritual, sekaligus menjadi penuntun bagi umatnya.
Di Korea Selatan, spiritualitas tradisional—terutama shamanisme—memiliki sisi magis sekaligus tragis. Menjadi seorang dukun (mudang) atau ahli spiritual di Korea bukanlah sebuah pilihan karier, melainkan sebuah panggilan takdir yang tidak bisa ditolak.
Sisi Kelam Panggilan Spiritual: Isolasi dan Pengorbanan
Dalam kepercayaan masyarakat Korea, seseorang yang mendapatkan panggilan spiritual namun mencoba menolaknya akan dihadapkan pada konsekuensi yang mengerikan. Mereka dipercaya akan mengalami rentetan nasib buruk hingga musibah besar sebelum akhirnya benar-benar tunduk dan menerima peran mereka di dunia mistis.
Mitos atau Fakta? Musibah bagi penolak panggilan ini bisa bervariasi, mulai dari kecelakaan kecil, penyakit misterius (shinbyeong), hingga tragedi fatal yang merenggut nyawa diri sendiri atau orang-orang terdekat.
Demi melindungi orang-orang tersayang dari imbas energi negatif tersebut, tidak sedikit ahli spiritual di Korea yang memilih jalan sunyi. Mereka mengisolasikan diri dari masyarakat umum dan memutuskan hubungan dengan keluarga demi menjaga keselamatan orang-orang yang mereka cintai.
Membawa Mistisisme ke Layar Kaca melalui ‘Battle of Fates’ (2026)
Meskipun dunia supernatural sering kali dianggap sakral dan tertutup, sebuah program televisi asal Korea Selatan membuat gebrakan baru di tahun 2026. Melalui acara berjudul Battle of Fates, topik supernatural khas budaya Korea diangkat ke dalam format yang sangat modern: survival show alias kompetisi eliminasi.
Acara ini mengumpulkan 49 ahli supernatural terbaik dari seluruh penjuru Korea Selatan. Mereka diadu dalam berbagai tantangan untuk menemukan siapa yang terkuat dan layak menyandang gelar sebagai yang terbaik di antara yang terbaik.
Keberagaman Peserta dan Latar Belakang
Kompetisi ini menarik perhatian karena menyatukan berbagai disiplin ilmu spiritual, baik tradisional maupun modern. Para peserta terdiri dari:
-
Dukun tradisional (Mudang)
-
Pembaca kartu Tarot
-
Ahli Saju (ramalan berdasarkan tanggal dan waktu lahir)
-
Pembaca wajah (Physiognomy)
-
Pembaca garis tangan (Palmistry)
-
Hingga pembaca garis kaki
Rentang usia peserta pun sangat kontras, mulai dari yang termuda berusia 18 tahun hingga praktisi senior berumur 60-an tahun. Latar belakang mereka tidak kalah unik.
Ada yang sudah mengasah bakatnya sejak kecil, ada yang baru terjun beberapa tahun, bahkan ada pula mantan figur publik dari dunia hiburan yang memilih banting setir ke dunia spiritual setelah mendapat panggilan gaib.
Panel Juri: Antara Kepercayaan dan Skeptisisme
Untuk menilai kemampuan para peserta, Battle of Fates menghadirkan empat juri utama dengan latar belakang yang beragam, yaitu Jun Hyunmoo, Park Narae, Shin Dong, dan Kang Jiyoung.
Dinamika juri ini sangat menarik karena adanya benturan perspektif:
-
Kang Jiyoung: Sejak awal menegaskan bahwa dirinya adalah seorang skeptis yang melihat segala sesuatu dengan logika.
-
Jun Hyunmoo, Park Narae, & Shin Dong: Memiliki sedikit pengalaman personal dan cenderung memercayai kemampuan supernatural para ahli tersebut.
Perjalanan Kompetisi: Dari Menebak Foto hingga Melanggar Tabu
Kompetisi Battle of Fates dirancang dengan ketat melalui beberapa tahapan eliminasi yang menguras energi spiritual para peserta:
1. Babak Penyaringan Awal (Top 49 ke Top 20)
Pada tahap pertama, seluruh peserta diuji dengan tugas-tugas berat, seperti menebak masa depan seseorang dari foto masa kecilnya, mengungkap identitas asli hanya lewat garis tangan atau kaki, hingga mengidentifikasi penyebab kematian seseorang bermodalkan foto dan tanggal lahir. Dari 49 orang, hanya 20 peserta yang dinyatakan lolos.
2. Babak Kedua: Melanggar Tabu Terbesar (Top 20 ke Top 12)
Di babak ini, para peserta dipaksa melanggar salah satu pantangan paling sakral dalam dunia spiritual Korea: meramal sesama dukun/peramal. Di sinilah emosi penonton dikuras. Melalui interaksi saling ramal ini, terungkap kisah hidup para peserta yang menyentuh hati—bagaimana mereka berjuang melawan panggilan takdir, kisah pilu keluarga yang mereka tinggalkan, hingga kekhawatiran hidup yang akhirnya terjawab.
Dari babak ini, juri memilih 10 orang lolos langsung dan menyelamatkan 2 orang melalui wildcard, menyisakan 12 peserta.
3. Babak Ketiga: Kompetisi Tim (Top 12 ke Top 6)
Ke-12 peserta tersisa dibagi ke dalam tim beranggotakan 3 orang. Setiap tim merupakan kolaborasi dari 3 bakat spiritual yang berbeda. Mereka kembali diberi tugas analitis tingkat tinggi seperti di babak pertama, dan hanya dua tim (6 peserta) saja yang berhak melaju.
4. Babak Keempat: Ujian Klien Nyata (Top 6 ke Top 3)
Enam peserta yang tersisa diadu satu lawan satu untuk membaca nasib dari tiga klien asli. Pilihan dari klien dan penilaian juri menyaring mereka hingga menyisakan 3 finalis utama.
Babak Final: Ritual Besar di Hadapan Publik
Pada seleksi akhir, tiga finalis tersisa dihadapkan pada ujian pamungkas. Mereka dipertemukan dengan klien masing-masing untuk melakukan pembacaan mendalam hingga ritual besar (Gut) jika diperlukan.
Menariknya, produser tidak hanya mengandalkan penilaian empat juri utama. Mereka mengundang banyak orang awam ke dalam studio untuk menyaksikan langsung proses ramalan dan ritual tersebut. Peserta yang berhasil mengumpulkan voting terbanyak dari penonton awam ini dinobatkan sebagai pemenang dan diakui sebagai ahli spiritual nomor satu di Korea Selatan.
Respons Penonton dan Rating
Battle of Fates (2026) sukses mencuri perhatian pencinta sinematografi Asia. Acara ini berhasil mengantongi skor yang cukup solid di platform ulasan global:
| Platform | Skor |
| IMDb | 7.6 / 10 |
| MyDramaList | 8.2 / 10 |
Mayoritas ulasan memuji acara ini karena berhasil mengemas keunikan, estetika, dan keindahan dunia spiritual Korea Selatan dengan sangat apik tanpa menghilangkan unsur ketegangannya.
Kendati demikian, beberapa penonton yang kritis tetap merasa bahwa beberapa momen dalam program ini terasa terlalu rapi dan terencana, layaknya sebuah naskah yang diatur oleh produser dan sutradara.
Terlepas dari pro dan kontra pengaturan layar kaca, Battle of Fates berhasil memberikan perspektif baru bagi orang awam mengenai beratnya beban hidup yang harus dipikul oleh mereka yang “terpilih” oleh alam semesta. (*/tur)