KALTENG.CO-Perhiasan emas kini tidak lagi identik dengan model kuno atau investasi orang tua. Di China, sebuah tren baru bernama “Tongjin” tengah digandrungi oleh generasi muda, khususnya perempuan. Mereka berbondong-bondong memburu perhiasan emas murni bertema karakter anime dan gim populer asal Jepang.
Menariknya, produk emas ini dijual dengan harga selangit—bahkan mencapai dua hingga tiga kali lipat lebih mahal daripada harga emas batangan atau perhiasan konvensional di pasaran.
Apa Itu Tongjin? Emas Mini dengan Nilai Emosional Tinggi
Secara harfiah, istilah Tongjin berasal dari kombinasi dua kata dalam bahasa Mandarin:
-
“Tong”: Istilah gaul (slang) di China yang merujuk pada aktivitas penggemar (fandom) yang sangat fanatik.
-
“Jin”: Berarti emas.
Secara fisik, tongjin umumnya memiliki ukuran yang sangat kecil, bahkan hanya sebesar biji kacang. Biasanya, emas mini ini dijadikan sebagai liontin atau aksesori pada gelang tali.
Meski ukurannya imut, daya tarik utamanya bukan sekadar pada nilai gramasi emasnya, melainkan pada ikatan emosional (emotional value) antara penggemar dengan karakter favorit mereka. Tren ini menjadi peleburan unik antara budaya pop Jepang (otaku) dan tradisi masyarakat China yang memandang emas sebagai simbol kemakmuran sekaligus instrumen investasi jangka panjang.
Karakter Populer yang Jadi Rebutan: Dari Hello Kitty hingga Chiikawa
Fenomena tongjin ini ditangkap dengan sangat baik oleh raksasa retail perhiasan di China melalui kolaborasi resmi (official licensing).
-
Chow Sang Sang (Guangzhou): Jaringan toko perhiasan ternama ini sukses menarik perhatian lewat kolaborasi resmi dengan Sanrio. Salah satu produk unggulannya adalah gelang emas murni seberat 0,5 gram bertema Hello Kitty yang dibanderol seharga 2.370 yuan (atau sekitar Rp5,4 juta).
-
Chow Tai Fook: Kompetitor beratnya ini memilih bekerja sama dengan karakter yang tengah naik daun, Chiikawa. Antusiasme konsumen begitu masif, bahkan stok produk ini sempat luntur dan habis total menjelang liburan Tahun Baru Imlek lalu.
Bagi para pekerja muda di China, tongjin juga berfungsi sebagai self-reward dan sarana stress relief.
“Emas nilainya tetap terjaga, itu yang membuat tongjin menarik. Saat pekerjaan membuat stres, melihatnya bisa membantu saya lebih tenang,” ujar seorang pekerja kantoran berusia 30-an tahun yang rutin mengenakan tongjin karakter Disney, LinaBell.
Mirip Budaya ‘Itasha’ dan ‘Itabag’ di Jepang
Fenomena pamer kecintaan terhadap karakter fiksi lewat barang sehari-hari sebenarnya bukan hal baru. Di Jepang, budaya ini sudah lama eksis dalam bentuk:
-
Itasha: Mobil yang dimodifikasi penuh dengan stiker karakter anime.
-
Itabag: Tas yang dipenuhi dengan pin, gantungan kunci, dan aksesori karakter favorit.
Tongjin bisa dibilang sebagai versi “mewah” dan lokal dari budaya tersebut, di mana media yang digunakan adalah logam mulia.
Sisi Gelap Tren Tongjin: Maraknya Barang Tiruan dan Isu Hak Cipta
Di balik popularitasnya yang meroket, tren tongjin juga menghadapi tantangan besar terkait hak kekayaan intelektual (HAKI).
Di Pasar Emas Shuibei, Shenzhen—yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan emas terbesar di China—banyak ditemukan toko yang menjual tongjin versi tidak resmi. Karakter-karakter legendaris seperti Crayon Shin-chan hingga Ultraman dijual bebas dengan kualitas yang dinilai lebih rendah.
Salah satu pemilik toko di kawasan tersebut bahkan blak-blakan mengakui bahwa mayoritas produk tongjin yang beredar di pasar grosir diproduksi tanpa lisensi resmi dari pemilik hak cipta di Jepang. Kendati demikian, karena harganya yang jauh lebih miring dibanding gerai resmi, produk tiruan ini tetap laris manis diburu oleh para penggemar yang memiliki anggaran terbatas.
Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik mengoleksi karakter anime favorit dalam bentuk emas murni seperti tren di China ini? (*/tur)