Patroli siber Cyrustimes menemukan laman Perhutani di Google Berita menampilkan konten diduga Judol sejak dua hari terakhir.
CYRUSTIMES, JAKARTA – Laman resmi Perhutani yang tampil di Google Berita terindikasi disusupi konten bernuansa judi online atau judol. Temuan itu diperoleh dari patroli siber tim Cyrustimes pada Senin (8/6/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.
Dalam hasil penelusuran, kanal Google Berita dengan nama Perhutani menampilkan sejumlah artikel yang tidak berkaitan dengan kehutanan, pengelolaan hutan negara, maupun aktivitas korporasi. Sebaliknya, beberapa judul yang muncul justru mengarah pada promosi permainan digital bernuansa judol, termasuk narasi promosi permainan daring yang lazim digunakan dalam jaringan konten serupa.
Pantauan Cyrustimes juga menemukan salah satu hasil Google Berita menampilkan judul “Munculnya Cara Baru dalam Menjelajahi Hiburan Digital Turut Mendukung Popularitas …” pada laman yang terasosiasi dengan Perhutani. Hasil serupa masih dapat ditemukan dalam indeks Google Berita saat penelusuran dilakukan. (Google News)
Dugaan awal, penyusupan konten itu mulai terjadi sekitar dua hari sebelum patroli dilakukan. Indikasi tersebut terlihat dari rentang waktu publikasi sejumlah konten yang muncul di Google Berita. Namun, belum dapat dipastikan apakah gangguan terjadi pada sistem situs utama, sublaman tertentu, celah publikasi, atau hanya pada indeks yang terbaca mesin pencari.
Perhutani merupakan Badan Usaha Milik Negara berbentuk Perusahaan Umum yang memiliki tugas dan wewenang mengelola sumber daya hutan negara di Pulau Jawa. Karena itu, kemunculan konten judol pada kanal yang membawa nama Perhutani menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan digital, tata kelola situs, serta proses pemantauan aset daring lembaga negara. (Perhutani)
Temuan ini menjadi alarm penting. Situs atau kanal digital lembaga publik kerap menjadi sasaran penyusupan karena memiliki reputasi domain yang kuat di mesin pencari. Dalam banyak kasus, pelaku tidak selalu mengubah tampilan utama situs. Mereka dapat menanam halaman tersembunyi, memanfaatkan celah unggahan, menyisipkan artikel spam, atau membuat URL tertentu agar terindeks Google.
Riset mengenai defacement situs Indonesia oleh aktor promosi judol juga menunjukkan pola serupa. Penelitian yang dipublikasikan di arXiv pada 2025 menemukan ratusan laman Indonesia terdeface dalam satu bulan, dengan pola berupa injeksi URL pihak ketiga, pengulangan konten, hingga respons perbaikan yang tidak selalu cepat. (arXiv)
Dalam konteks Perhutani, persoalan ini bukan sekadar gangguan teknis. Nama lembaga negara yang muncul berdampingan dengan konten judol dapat merusak kredibilitas institusi, mengganggu kepercayaan publik, dan berpotensi membuat pembaca keliru mengira konten tersebut bagian dari publikasi resmi.
Cyrustimes belum memperoleh keterangan resmi dari Perhutani terkait dugaan penyusupan ini hingga naskah ini disusun. Redaksi membuka ruang jawab, klarifikasi, dan hak koreksi kepada Perhutani apabila terdapat penjelasan resmi mengenai penyebab kemunculan konten tersebut, langkah pemulihan, serta status keamanan situs yang terhubung dengan Google Berita.
Kasus ini juga menjadi pengingat bagi lembaga publik, BUMN, pemerintah daerah, hingga media online untuk memperketat patroli siber berkala. Pengawasan tidak cukup hanya melihat halaman depan situs. Pemeriksaan perlu menyasar indeks Google, Google Berita, sitemap, subdomain, direktori lama, halaman arsip, dan kemungkinan injeksi konten tersembunyi.
Jika benar terjadi penyusupan, langkah cepat yang perlu dilakukan ialah menurunkan konten bermasalah, mengaudit akses administrator, memeriksa plugin atau sistem manajemen konten, membersihkan sitemap, mengajukan penghapusan URL berbahaya dari indeks mesin pencari, serta menyampaikan informasi terbuka kepada publik agar tidak muncul spekulasi liar.
Ruang Jawab:
Cyrustimes membuka ruang jawab dan klarifikasi kepada Perhutani terkait temuan ini. Penjelasan resmi dapat disampaikan kepada redaksi untuk dimuat sebagai bagian dari prinsip keberimbangan informasi.