← Kembali ke https://cyrustimes.com/

Dinamika Harga Sembako di Pasar Blauran Palangka Raya : Inflasi atau Fluktuasi?

https://cyrustimes.com/ • 08 June 2026 11:58
Dinamika Harga Sembako di Pasar Blauran Palangka Raya : Inflasi atau Fluktuasi?

Harga Sembako Palangka Raya di Pasar Blauran bergerak tidak menentu dan mulai menekan daya beli masyarakat.

CYRUSTIMES.COM, PALANGKA RAYA – Harga bahan pokok di Pasar Blauran Palangka Raya menunjukkan pergerakan yang semakin tidak menentu. Kenaikan harga tidak hanya terjadi sesaat, tetapi mulai berulang dan bertahan lebih lama pada sejumlah komoditas utama.

Kondisi ini membuat pedagang dan pembeli sama-sama menghadapi tekanan. Pedagang harus menyesuaikan harga jual, sementara pembeli harus mengatur ulang pengeluaran rumah tangga.

Fenomena ini terlihat jelas pada harga ayam, cabai, gula, dan kebutuhan pendukung seperti kantong plastik. Beberapa komoditas memang masih stabil, tetapi sebagian lainnya mengalami kenaikan cukup tajam.

Berdasarkan survei lapangan yang dilakukan pada Kamis (17/04/2026) pukul 18.25 WIB, harga cabai mengalami kenaikan dari sekitar Rp30.000 per kilogram menjadi Rp75.000 per kilogram. Kenaikan ini menjadi salah satu perubahan paling mencolok di Pasar Blauran.

Harga ayam juga naik dari Rp29.000 per kilogram menjadi Rp37.000 per kilogram. Gula bergerak dari Rp18.000 per kilogram menjadi Rp20.000 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada kantong plastik ukuran 2 kilogram. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp35.000 per pak, kini naik menjadi sekitar Rp55.000 per pak.

Salah satu pedagang ayam di Pasar Blauran, Yani, menyebut kenaikan harga ayam berlangsung sejak periode Natal. Menurutnya, harga sempat turun, tetapi tidak bertahan lama.

“Dari awal Natal, harga ayam terus meningkat, tidak pernah standar. Paling hanya turun dua sampai tiga hari saja, lalu meningkat kembali,” kata Yani.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan tahun sebelumnya. Saat itu, harga ayam masih dapat turun hingga sekitar Rp29.000 per kilogram.

Kondisi serupa juga dirasakan pedagang cabai. Harga cabai yang tahun lalu sempat turun ke Rp30.000 per kilogram, kini memiliki batas penurunan yang lebih tinggi.

“Tahun kemarin sempat anjlok di harga Rp30.000. Kalau sekarang harga paling anjlok di Rp50.000, dan harga saat ini Rp75.000 per kilogram,” ujar salah satu pedagang cabai.

Pernyataan itu menunjukkan adanya pergeseran harga dasar di pasar. Harga yang sebelumnya dianggap tinggi, kini perlahan menjadi standar baru bagi sebagian pedagang dan pembeli.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan pangan. Pedagang plastik juga merasakan perubahan harga pada barang pendukung aktivitas pasar.

“Kantung plastik kapasitas 2 kilogram biasanya Rp35.000 per pak, sekarang sudah Rp55.000 per pak,” kata pedagang plastik di Pasar Blauran.

Meski begitu, tidak semua komoditas mengalami kenaikan. Harga bawang merah masih berada di kisaran Rp50.000 per kilogram, sedangkan bawang putih sekitar Rp40.000 per kilogram.

Harga telur justru mengalami penurunan. Dari sebelumnya sekitar Rp63.000 per rak, kini turun menjadi Rp60.000 per rak.

Perbedaan pola harga ini menunjukkan, pergerakan harga di pasar tidak selalu seragam. Ada komoditas yang naik tajam, ada yang stabil, dan ada pula yang turun.

Namun, kenaikan berulang pada komoditas utama tetap perlu diwaspadai. Sebab, cabai, ayam, gula, dan kebutuhan pendukung pasar memiliki hubungan langsung dengan konsumsi harian masyarakat.

Jika kenaikan harga hanya terjadi sesaat, kondisi itu dapat disebut fluktuasi biasa. Namun, ketika kenaikan berlangsung berulang dan sulit kembali ke harga lama, gejalanya perlu dibaca lebih serius.

Dalam konteks ekonomi, perubahan harga seperti ini dapat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Ketika permintaan meningkat, tetapi pasokan tidak mampu mengimbangi, harga cenderung naik.

Kondisi tersebut sesuai dengan pandangan Alfred Marshall tentang keseimbangan pasar. Harga barang terbentuk dari hubungan antara permintaan dan penawaran.

Jika pasokan cabai atau ayam terbatas, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga akan bergerak naik. Kenaikan itu bisa semakin kuat ketika biaya transportasi dan ongkos distribusi ikut meningkat.

Di Palangka Raya, faktor distribusi menjadi bagian penting dalam membaca harga pasar. Banyak komoditas tidak sepenuhnya berasal dari produksi lokal, sehingga harga sangat bergantung pada kelancaran pasokan dari luar daerah.

Ketika biaya logistik naik, dampaknya akan terasa di tingkat pasar. Pedagang menaikkan harga untuk menutup biaya, sementara pembeli harus menanggung beban akhir.

Momentum hari besar keagamaan juga dapat memperkuat tekanan harga. Permintaan ayam, cabai, gula, dan bahan pangan lain biasanya meningkat pada periode tertentu.

Jika permintaan naik bersamaan dengan pasokan yang terbatas, maka harga akan lebih mudah melonjak. Dalam teori ekonomi, kondisi ini dapat berhubungan dengan demand pull inflation atau inflasi karena tarikan permintaan.

Namun, kondisi di Pasar Blauran belum tentu langsung dapat disebut inflasi secara menyeluruh. Inflasi membutuhkan pengukuran yang lebih luas terhadap banyak kelompok barang dan jasa dalam periode tertentu.

Yang terjadi di Pasar Blauran saat ini lebih tepat dibaca sebagai fluktuasi harga yang cenderung meningkat. Meski demikian, gejala ini tetap penting karena dapat berkembang menjadi tekanan inflasi lokal jika berlangsung terus-menerus.

Dampaknya paling terasa bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Ketika harga kebutuhan pokok naik, ruang belanja rumah tangga semakin sempit.

Keluarga yang pendapatannya tetap harus mengurangi pembelian, mengganti jenis makanan, atau menunda kebutuhan lain. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas konsumsi masyarakat.

Karena itu, pemerintah perlu lebih aktif menjaga stabilitas harga di pasar. Operasi pasar, pemantauan stok, dan pengawasan distribusi perlu dilakukan secara konsisten.

Pemerintah juga perlu memastikan pasokan bahan pokok tetap lancar. Jika hambatan distribusi menjadi penyebab kenaikan harga, maka solusi tidak cukup hanya dengan memantau harga di lapak pedagang.

Koordinasi antara pemerintah daerah, distributor, pedagang, dan pemasok perlu diperkuat. Pasar tradisional seperti Pasar Blauran harus menjadi titik pantau penting karena langsung berhubungan dengan kebutuhan harian masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu bijak dalam berbelanja. Pembelian berlebihan dapat memperbesar tekanan permintaan dan mendorong harga semakin naik.

Stabilitas harga tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pedagang, distributor, dan konsumen juga memiliki peran dalam menjaga agar pasar tetap berjalan sehat.

Kondisi Pasar Blauran menunjukkan, harga sembako tidak bisa dipahami hanya sebagai urusan jual beli. Di balik kenaikan harga, ada persoalan pasokan, distribusi, biaya logistik, permintaan musiman, dan daya beli masyarakat.

Maka, pertanyaan apakah kondisi ini inflasi atau fluktuasi tidak bisa dijawab secara hitam putih. Untuk saat ini, kondisi tersebut dapat disebut fluktuasi harga yang mulai menunjukkan tekanan kenaikan.

Namun, jika kenaikan harga terus berlangsung dan menyebar ke lebih banyak komoditas, maka risiko inflasi daerah perlu diwaspadai.

Pada akhirnya, stabilitas harga bukan hanya angka dalam laporan ekonomi. Stabilitas harga harus terasa di pasar, di meja makan, dan dalam kemampuan masyarakat membeli kebutuhan pokok setiap hari.

Penulis: Neza Nurakila
Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya

Sumber: https://cyrustimes.com/
Baca Artikel Asli